TETES KERINGAT DI LANGIT JINGGA
Oleh:
Nur Savira
Nur
Savira itulah nama lengkapku, biasanya di panggil Savira ataupun Vira, Rintik
juga boleh. Artinya “ Cahaya indah yang bergemerlap “ kata orang tuaku ini akan
berhubungan dengan kepribadian dan first impression orang ke aku bak seperti
melihat gemerlap cahaya, entah benar atau gimana. Aku adalah gadis pendiam namun memiliki sejuta cerita
dalam Diary & coretan gambarku, ohiya aku lahir di Kabupaten Dompu, Kabupaten
kecil yang ada di Nusa Tenggara Barat, alhamdulillah sekarang sedang menempuh pendidikan
pada program studi matematika murni di perguruan tinggi negeri Universitas
Mataram (UNRAM). Berbicara tentang impian, kita pasti punyakan impian yang
indah? , sama aku juga. Impian adalah sebuah tujuan hidup bagi aku, sebuah tujuan yang
sangat mudah untuk diangankan namun butuh perjuangan untuk dapat meraihnya.
Dalam meraih impian tentu ada susah dan senang, namun jika kita sudah bisa
mencintai impian itu semua akan terasa mudah, kita juga harus sadar bahwa saat
impian itu berhasil kita wujudkan, saat itulah kita akan lupa betapa lelahnya
selama ini kita memperjuangkan impian itu, iya kan?. Alhamdulillah
setelah sekian lama bermimpi untuk melihat indahnya langit jingga di atas awan,
allah mengabulkannya impian aku melalui orang-orang hebat nan luar biasa di
sahabat pena yang memberikan aku kesempatan menjadi delegasi inisiatif pemuda
pena Indonesia pada program pemuda menyapa dunia #2 di Malaysia dan Thailand ( www.sahabatpena.org ). Kisah
ini aku memulai dengan tanggisan atas kebingungan dan ketidaktauan…
***
Ketidaktauan? iya aku
tidak tau tentang skenario Allah yang paling indah di pengujung tahun ini untuk
ku, aku tidak tau do’a yang keberapa sehingga bisa sampai ke arsy’nya Allah,
aku tidak tau amalan yang mana aku lakukan sehingga allah memberikan hadiah ini,
dan aku tidak tau sehebat apa do’a kedua orang tuaku untuk diri ini. Melalui sahabatku,
aku mengenal apa itu inisiatif pemuda pena, sahabatku menceritakan kisah
indahnya bertemu orang-orang hebat di sana dan program yang begitu luar biasa,
sehingga dia merekomendasikan aku untuk ikut program keduanya. Aku terdiam
rasanya sulit dan tidak mungkin aku bisa gapai juga, tapi di sini hebatnya dia selalu
menyakiniku bahwa kesempatan itu tidak ada yang tau, dan mencoba itu tidak rugi,
sehingga aku yakin mendaftarnya. Setelah mendaftar dan alhamdulillah lolos
seleksi administrasi untuk bisa menjadi peserta PENA Menyapa Dunia #2, kemudian
aku belajar lebih keras lagi untuk tahap selanjutnya, soal hasil? Jujur saat
itu bener-bener aku tidak terlalu memikirkannya, karena dibalik hasil yang
indah ada usaha yang luar biasa, dan aku ingin belajar dari usaha yang sudah
aku perjuangankan.
Hembusan anila di sore
hari sangat menyejukkan hati ini sebari di temani es kelapa di tempat
favoritku, saat itu aku tiba-tiba mendapatkan notifikasi email bahwa aku
dinyatakan lolos ke tahap interview, tahap terakhir dari segala tahap dan
selalu kegagalan yang aku dapatkan setiap tahap ini, namun sore itu rasanya
sangat berbeda, tidak seperti biasa, hatiku dibuat tenang oleh allah. Apakah
mungkin kali ini keberhasilan menghampiriku?, hanya allah yang tau saat itu. Tidak
terasa keesokan harinya pukul 23.05 wita saatnya aku untuk di interview oleh
kakak-kakak penyeleksi dari Sahabat PENA, sebelum pukul jam itu berubah di
laptopku, aku prepare segala macam dari membaca, memperlajari kembali
pertanyaan-pertanyaan yang sudah aku isi di tahap awal, outfit, wifi dan tidak
lupa air minum di samping, karena anaknya sering dehidrasi terus lupa deh mau
ngomong apa nantinya hehe. Sebelum memulai aku berdoa semoga bisa menyapaikan dengan
baik dan lancar, dalam hati kecil ada 1 harapan yang aku tanam, melalui program
ini semoga bisa menjadi jembatan bagi diriku untuk menggambil ilmu agar
nantinya bisa aku bagikan kepada murid-murid ku.
Tanggisan atas
kebingunggan? Aku menangis disini, menangis sejadi-jadinya, mungkin seperti
orang yang putus cinta, bisa di bilang seperti itu. Aku kira perjuanganku sudah selesai saat di
nyatakan lolos sebagai salah satu penerima fully funded, namun itu salah besar!
Perjuangan sebenarnya itu mulai dari sini. Hari jum’at 9 september 2022 pukul 08.55 wita notif telefon
dari sahabatku menggabari bahwa aku lolos, karena selepas
interview aku tidak ingin membuka sosial media lagi, karena kebiasaanku begitu
setiap kali mengikuti apapun. Awal mendengar pengumuman itu tentu yang pertama aku menangis
dan merendahkan kepala langsung sudut syukur kepada Allah, saat itu aku masih belum
percaya sehingga aku sempat menggira dan meragukan bahwa itu orang lain yang
meminjam fotoku saja bukan diriku, Namun itu bener adalah diriku, aku merasa
ini kado akhir tahun yang amat sangat indah, hanya sekedar mimpi dari sebuah
lukisan yang sering ku gambar, kini akan segera menjadi kenyataan yang akan ku
lihat langsung.
Tanggisan
kedua berawal dari pembuatan pasport, pertama akunku untuk pembuatan paspor
lewat online tidak valid, sudah berapa kali mencoba, beberapa email ku gunakan
hasilnya tetap sama. Mau tidak mau aku putuskan untuk mengisi secara offline
walau harus mengantri dikantor Imigrasi kota mataram, kemudian bolak balik mencari materai 6000
yang tidak ada, selanjutnya ada berkas yang tidak sesuai yaitu perbedaan jumlah
huruf pada nama antara KTP dan Akta Kelahiran ku, awalnya di terima tetapi
pihak sistem menolak, keputusanya harus memilih salah satu mau ikut yang mana,
sesuai Akta Kelahiran atau KTP. Sekalipun aku memilih salah satunya tetap saja
berkas yang berbeda harus diurus untuk menjadi sama, dan itu memakan waktu,
sedangkan jarak rumah orang tuaku dengan aku sekarang 12 jam perjalanan dan
harus menyebrang pulau, lagi-lagi aku merepotkan kedua orangtua untuk mengurus
pergantian KK dan KTP ku yang terbaru agar sesuai dengan Akta Kelahiran,
otomatis pembuatan paspor tertunda dan memakan waktu lagi, sempat takut karena
waktu semakin dekat, hatiku takut tidak akan keburu dengan waktu pembuatan, tapi
alhamdulillah perjuangan dan doa orangtuaku allah mudahkan jalanya.
Tanggisan
ketiga, kali ini rasanya semua perjuangan sia-sia, impianku hanya akan menjadi mimpi yang tak
kunjung nyata, orang-orang diluar sana pasti akan menggunjing ku, rasa
kecewanya kedua orang tua, dan jujur saat itu aku sudah mengikhlaskan
kesempatan ini, karena menurutku tahap berkas ini adalah hal yang penting. Tapi
sungguh aku lupa diri bahwa aku mempunyai allah yang paling agung, yang bisa
berkendak akan dunia dan seisinya. Berkas vaksin ku bermasalah, setelah membaca
kalimat itu mungkin kalian sudah bisa membayangkan apa yang aku rasakan saat
itu😊, kalau kata ustadzah hanen akira “Jangan
panik dulu, jangan menyalahkan ombak, jangan pernah mempertanyakan apa yang allah lakukan. Karena kilaunya kamu justru
akan muncul karena ada tantangan, lalu kenapa harus ada tantangan? Karena
memang kamu butuh tantangan, untuk kamu yang paling indah.”
Pertama
yang aku lakukan, balik ke RSUD kota lagi, ternyata bagian pengurusan vaksin
tutup di hari itu, langsung datang hari senin aja ya mba kata petugas RS saat
itu. Langkah kedua aku coba konsultasi dengan Mba ku salah satu Dokter di RS
Universitas Mataram, beliau bilang pengurusan berkas biasanya ditunggu min.
3x24 jam, ada kabar baik. Namun itu kecil kemungkinannya dan bahkan tidak bisa
lanjutnya, jujur disini aku remuk redam tapi aku harus tenang dulu, karena hari
senin belum terjadi. Langkah ketiga aku mencoba menghubungi dan konsultasi lagi
dengan bibi ku yang ada di RSUD Kab. Dompu, aku minta segala sarannya. Langkah
keempat aku mencoba menghubungi pihak panitia pena dan menjelaskan apa
masalahku sehingga aku bisa mendapatkan beberapa saran dan solusi lain lagi.
Aku berusaha menahan air mata dengan membeli makanan, ketempat-tempat yang
menjadi favoritkunya, agar aku bisa menenangkan pikiran, Langkah kelima aku
mencoba menghubungi kepala laboratorium provinsi hasilnya juga masih sama. “tenang
ka” 1 kata dari kaka-kaka pena yang membuat diriku sedikit lebih tenang lagi
saat itu.
Senin
hari yang ku tunggu, aku ke RSUD Kota konsultasi namun hasilnya masih sama,
keesokannya harinya balik ke RSUD Kota lagi, lagi dan lagi, akhirnya aku direkomendari untuk bertemu
dengan dokternya langsung, hasilnya? Tetap sama dan beliau menyarankan untuk
mencoba menghubungi pihak peduli lindungi langsung, diarahakan apa saja step
yang di lakukan dan nomornya, otomatis pihak RS lepas tangan. Aku mencoba
konsultasi lagi, minta solusi lain, minta bantuan dan saran lain, lagi dan lagi
hasilnya tidak ada. Aku pulang pergi ke
tempat favoritku dan ya kalian pasti tau apa yang terjadi selanjutnya, nangis?
Iya aku nangis. Berderai-derai air mata yang sudah aku tahan tidak bisa di
bendung lagi, tubuh ku yang sudah capek di ajak berjuang, waktu yang terkuras
sia-sia, masalah yang tak kunjung ada solusi dan usaha yang tak bertemu hasil. Aku
merasa gagal memperjuangankan mimpi ini, hampir 1 minggu aku menangis, tidak
selera makan, asupanku hanya air mata dan tenagaku hanya untuk ibadah.
Lawan
ya, pasti di lancarin semuanya, ada jalan, aku yakin kamu pasti akan terbang!
Tersenyumlah kamu masih punya allah serahin semuanya. Kalimat luar biasa yang
sahabatku selalu transfer ke diri ini. Aku bangkit, aku lebih dekat lagi dengan
allah, dan aku ikhlas. Apapun yang membuatku teringat lagi dan sedih aku selalu
berdoa dan minta untuk dihalangkan rasa sedih itu karena savira sudah ikhlas ya
allah, teruslah berlayar dan tetap ucapkan Alhamdulillah. Waktu semakin dekat
aku membuat check list yang harus di sediakan, dari mengajar banyak yang aku
persiapkan, aku belajar cara public speaking dengan baik, cara mengajar
anak sd yang menyenangkan, cara membaca psikologi anak, dan cara komunikasi
yang asyik untuk teman baru. Karena jujur aku introvert, karena sekarang aku di
beri kesempatan menjadi delegasi fully funded, jadi harus bertanggung jawab dan
bisa mengajak teman-teman delegasi lain yang mungkin pendiam sepertiku agar mau
berbaur. Karena jangan pernah menunggu orang lain akan peduli tetapi harus kita
dulu yang mau peduli. Kemudian persiapan barang-barang pribadi lain dan alat
ngajar. Walau ketidakpastian yang aku jalani sekarang entah bisa berangkat atau
tidak tapi aku tetap melakukan apa yang harus ku persiapkan dan hanya berharap
kepada tuhan apapun hasilnya nanti. “ Liyabluwakum ayyuqum akhsanu amala
” Allah ingin melihat kamu, bagaimana
menciptakan amalan-amalan terbaik yang kamu miliki itu seperti apa. Apakah
seindah pelangi? atau sekeren bunga tulip yang ada di belanda sana?. H-1 minggu
sebelum keberangkatan allah memberikan kuasanya, jalan, pertolongan, kemudahan,
dan takdir baik untuk ku, sehingga aku mendapatkan 1 kisah indah, ilmu yang
mahal dan kebahagiaan yang akan ku ceritakan selanjutnya.
1
kisah indah? Sangat indah, Jakarta, kini aku melihatmu walau aku tidak bisa
menetap untuk seluruhnya tahu tentangmu. Berawal di malam hari ada 2 teman
cowok yang menungguku di gate 2 terminal
3 bandara soekarno hatta, sedangkan aku masih di Bekasi hehe, dengan
senyum dan keramahan mereka menyambut ku
walau sebelumnya belum berjumpa langsung namun begitu baik. Senyuman dan
keramahan first impression yang aku dapatkan, dari teman-teman lain hingga kaka
kaka panitia yang sangat ramah, seakan bertemu teman lama yang kini berjumpa
lagi rasanya, terlihat begitu akrab sekali. Sudah bisa di tebak bahwa mereka
semua adalah orang-orang pilihan yang allah pilih untuk di pertemukan dengan
ku. Keakraban kami dimulai di salah satu tempat duduk didepan sate khas senayan
dibandara, tempat duduk yang berhadapan yang sangat pas untuk mahasiswa
rantauan seperti kami. Tak ada rasa saling pamer sedikitpun di antara mereka
semua, topic pembahasan yang kami bahas juga hal-hal sederhana, seperti mampir
beristirahat di masjid istiqlal, ketiduran yang hampir ketinggalan kereta, bunyi
pesawat seperti orang sedang las besi, budaya dan kebiasaan dikampus, kemudian asal kami, sambil nyemilin jajan yang wajib
dicoba satu persatu, lelucon yang mengelitik perut. Dari yang tidur pake sarung
yang dikira maling, orang yang tidur dikira teman sendiri dan bisa-bisanya ada
yang ketiduran ditoilet, kemudian ac bandara yang di anggap cctv yang gede dan
berebut untuk masuk frame foto paspor.
Bisa kalian bayangkan gimana lucu dan serunya malam itu.
Tidak
terasa waktu keberangkatan pun tiba, saat-saat dimana aku akan melihat indahnya
langit jingga di atas awan di negeri tetangga yaitu Malaysia. Sebelum menaiki
pesawat notif telefon dari ibuku masuk, bertanya apakah diriku baik-baik saja?
Gimana bertemu orang-orang hebat, bahagia nak? Sebelum sambungan telefon berakhir
ibuku berpesan semoga lancar barokah and always happy peri cantik. Selama
perjalanan menuju kuala lumpur mungkin mataku beristirahat hanya 20menit saja,
karena tidak mungkin aku melewatkan melihat keindahan langit jingga diatas
awan, sambil memeluk ara (itu nama boneka ku) melihat dan
menikmati keindahan ciptaan tuhan ini, hingga akupun mengabadikannya. Rasa
syukur tak terhitung yang selalu terucap dimulutku saat melihat keindahan itu,
sungguh indah. Lebih indah dari ekpetasiku, lebih dari yang aku gambar dan
lebih indah dari yang biasa aku lihat dibalkon rumah. Akhirnya kami sampai di
Bandara Kuala Lumpur, hari pertama kami culture visit dimana di perkenalkan
sebagian kemewahan yang dimiliki oleh Malaysia. Berkunjung ke istana perdana menteri Malaysia, masjid Putrajaya,
Putrajaya, Dataran merdeka, Menara Petronas, dan Pasar seni, disini sudah jelas
yang aku incar adalah coklat hehe. Selama perjalanan menuju pulau penang yang
sungguh indah aku banyak belajar bahwa dibalik megahnya bangunan indah yang
kokoh berdiri, ada perjuangan yang hebat dibalik itu semua. Akhirnya aku sadar,
hidup yang tidak dikorbankan adalah hidup yg tidak akan pernah di menangkan.
Hari kedua, hari yang aku
tunggu yaitu bertemu dengan adek-adek di Sanggar Permai Penang dan membagikan
hal sederhana yang aku miliki ke pada mereka, namun sebelum aku bertemu dengan
mereka hatiku terenyuh sambil menaiki anak tangga, melihat tempat mereka untuk
menimba ilmu, ruangan yang kecil, jalanan yang sempit. Namun semua itu tidak
mengurung niat mereka untuk semangat belajar. Kami mengajarkan banyak hal
kepada mereka dan aku mengenalkan sedikit tarian tradisional yang dimiliki suku
tempat aku lahir “tari wura bongi monca” namanya. Teman-teman lainpun begitu
juga, mengenalkan budaya asalnya, banyak hal yang membuat mereka sangat bahagia.
Kemudian yang tidak kalah seru saat mengunjungi sanggar permai yaitu waktu
sharing session bersama para pengurus dan pengajar disana. Bapak khogaeni atau
biasa di sebut pak’e, beliau adalah salah satu pendiri dari Sanggar Permai
Penang yang berbagi cerita tentang bagaimana perjuangan pendidikan anak-anak
PMI (undocumented).
Sepulang dari mengajar
kami berkunjung ke Konsulat Jendral Republik Indonesia Penang (KJRI), disini
kami dijamu dan disambut dengan hangat bak seperti bertemu keluarga, masakan
Indonesia tentu di sediakan di sini dan tidak lupa milo hangat nya hehe.
Kemudian sharing sesioan dan tanya jawab. Alhamdulillah disini aku
berkesempatan bertanya dan tau bagaimana prospek kerja KJRI Penang di 3 wilayah
fokusnya yaitu Penang, Perlis dan Kedah, jelas prospek kerjanya diatur melalui
MoU, tidak lupa terkaid bagaimana kerja sensus penduduk yang ada di sana.
dimana dari pemutakhiran data jelas melalui aplikasi yaitu Portal Peduli WNI
namanya, kemudian ada Safe Travel yang dibuat dan dikembangkan oleh Kementerian
Luar Negeri RI. Aplikasi ini berisi informasi praktis yang diperlukan oleh
warga negara Indonesia (WNI) yang akan atau sedang berada di luar negeri dengan
berbagai keperluan masing-masing (wisata, studi, TKI, bisnis, dsb). Total
60.610 WNI dengan rincian daftar penduduk untuk Penang 50.628 (83,5 %), Perlis
489 (1%) dan Kedah 9,493 (15,5%). Sungguh mahal sekali ilmu yang aku dapatkan
disini dan melalui tulisan ini aku membagikanya. Keseruan kami tidak sampai di
2 tempat itu saja, sepulangnya dari KJRI Penang kami mengunjungi bangunan
Majlis Bandaraya Pulau Pinang dengan suguhan pantai yang indah di sampingnya.
Masya allah bangunan putih yang kokoh berdiri megah begitu indah.disini, sambil
menikmati sore hari kami mengabadikan moment dengan berfoto, kemudian mencicipi
Pasembur rojak khas Penang, Es ABCD nya upin-ipin yang sering ku tonton dan aku
takjub dengan lilin yang ada di salah satu spot tempat yang katanya sebelumnya
di rayakan hari happy deepa’vali, akupun mengabadikanya.
Penutup di hari itu kami
mengunjungi tempat makan khas penang yaitu Nasi Kandar dan tidak lupa ice cream
ovamaltin karena kitkat kosong hehe. Ternyata
keseruan belum sampai disini untuk hari kedua, saat selesai bersih-bersih dan
rebahan di kamar hotel, tiba-tiba mba rere teman sekamarku mengajak makan
durian yang jual didepan hotel bersama teman-teman lain. Aku sebagai pencinta
durian garis keras tidak bisa menolak ajakannya, usut punya usut kami berlanjut
keliling dimalam itu ya seputaran wilayah dekat hotel, kali pertama jalan-jalan
di atas jam 10 malam di negeri orang, sungguh pengalaman yang luar biasa.
Sambil menikmati sejuknya malam ditemani indahnya bintang di langit ternyata
tidak semenyeramkan itu dunia di malam hari. Tidak hanya keindahan yang kudapat
saat itu tapi rasa syukur juga, karena tidak sedikit banyak orang yang tidur di
JPO, sudah larut malam masih bekerja dll, akhirnya tempat Mcd Penang tempat
terakhir kami, sehabis makan dan bercanda ria aku dan Mba rere memutuskan
pulang lebih dulu karena sudah ngantuk sambil menaiki grab yang di pesan.
Agenda kami hari ke tiga
yaitu berkunjung ke Universita Sains Malaysia, tidak henti mengucapkan masya
allah saat memasuki kampus ini, diri ini serasa masuk kedalam dunia imajinasiku
bahwa ada kampus didalam taman yang begitu luas. Asri, seakan sedang berwisata
ke pucak sangat indah sekali, kami di sambut begitu ramah, kemudian sharing
session dan tanya jawab dari beberapa pertanyaan yang dilayangkan oleh
teman-teman delegasii, tak disangka kami di ajak berkeliling dan diperkenalkan
tempat-tempat yang ada di USM. Ada satu spot yang paling menggambarkan diriku,
mengambar dunia imajinasi ku dan seakan bak seperti jadi peri sehari hehe yaitu
pada area belakang salah satu bangunan di USM yang dikelilingi rumputan hijau
dengan pepohonanya yang indah, i am so happy. Selepas berkeliling kami
berkunjung ke teman-teman PPI yang ada di USM, lagi-lagi aku terkejut, apakah
ini ruangan pribadiku? Speechless, ruangannya sangat indah, tiap dindingnya di
hiasi oneline drawing (sebuah teknik menggambar suatu benda dengan satu garis
kontinyu tanpa putus, dari realitas bentuk awal ayam yang detil ke bentuk yang
paling sederhana), warna ruangan yang soft membuat segar mata memandang,
perpaduan yang sangat indah. Kemudian
keseruan sharing session yang tiada henti, hingga aku tidak menyadari tertidur
beberapa menit, efek lelah mungkin tapi tidak lama ko hanya sebentar saja hehe.
Sepulangnya kami dari USM kami langsung bergegas menuju agenda selanjutnya ke
negeri tetangga yaitu Thailand.
Hari terakhir kami
mendapat kesempatan untuk bisa berkunjung ke Negara Thailand yaitu provinsi
Songkhla kota Hat yai, karena saat memasuki wilayah Thailand di malam hari kami
tidak terlalu bisa melihat keindahanya namun selama perjalanan begitu seru, tau
tidak kenapa? kami di ajarkan bahasa Thailand! Kebahagiaan, senyum dan tawa
menjadi satu saat malam itu, dari belajar bahasa hingga berhitung hehe. Seperti
ucapan selamat datang “sawadee kha” (untuk perempuan), sawadee kab (untuk
laki-laki), kemudian Savira na kha ( aku Savira), 'Khob jai maak na wei'
(terima kasih banyak) dan berhitung dari 1 hingga 10 yaitu neung(1), soong(2),
saam(3), sii(4), haa(5), hok(6), jet(7), aaet(8), kao(9), sip(10). Bisa
dibayangkan seseru apa saat malam itu, kemudian kami bersinggah untuk makan
malam di salah satu tempat makan all you can eat seafood yang ada di hat yai
Thailand. Keseruan kami tidak hanya saat belajar bahasa Thailand tadi tetapi
saat makan juga. Disini sedikit ada kebinggungan, karena binggungan ingin
memilih seafood yang mana, memilih nasi yang mana, hingga air minum, kamipun
binggung tempatnya dimana saja, ingin bertanya pun sulit karena didaerah
wilayah kota ini masih sedikit penduduknya yang bisa mengerti bahasa Inggris,
masih sangat kental akan bahasa nya sendiri. Namun aku hanya tertuju pada 1
antrian yang lumayan panjang, kalian sudah pasti bisa tebak antrian apa, iyap
betul sekali antrian ice cream. Antrianya cukup panjang, tiap orang yang
mengantri lebih dari 1 mangkok yang di bawa. Aku paling suka yang rasa vanilla,
dan jelas 2 kali kloter aku mengambilnya hehe. Kebersamaan yang kurasakan
disini, satu sama lain saling berbagi untuk di icip makanan yang di ambil,
kemudian sama-sama menunggu makanannya matang, hingga saling menghabiskan
makan, karena all you can eat mau tidak mau tidak boleh ada yang tersisa, dan
saat saat itu sungguh seru dan indah.
Thailand, aku sangat suka
dengan salah satu minumanmu yaitu thai tea, kini tak disangka aku bisa
meminumnya langsung asli di tempatmu. Banyak tempatmu yang aku kunjungi yaitu
Kaysorn tempat souvenir mu, Wa Phranon Laen Pho, Ko Yo, Songkhla Thailand,
kemudian mencicipi ice cream kelapa dan rujak khas Thailand, Pantai Samila yang
mempunyai icon patung putri duyung yang di percaya tempat untuk mecari jodoh,
dan terakhir the central mosque of Songkhla. Terima kasih Thailand untuk
budaya, bangunan serta kisahmu yang bisa aku petik dan menjadikan pelajaran untuk
hidupku kedepanya. Aku izin pamit pulang balik ke negara ku ya semoga kita
berjumpa lagi dengan kisah selanjutnya. Perjalanan menuju malaysia kami tempuh
lagi, selama perjalanan aku hanya bisa menikmati pemadangan melalui jendela
mobil sambil melihat langit yang kian gelap, jalanan yang kian rame dihiasi
lampu dan serta gedung megah dengan lampunya
sendiri, banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan pada ke 2 negara tetangga
yang aku singgahi, sungguh sedih rasanya karena kini aku segara balik ke
Indonesia, rasanya sanggat cepat namun begitu indah kenangannya. Perpisahan
memang tidak mudah di lakukan, karena pada dasarnya sifat manusia ingin
memiliki bukan melepaskan. Namun tanpa adanya perpisahan ruang rindu dan kasih sayang
itu tidak akan ada.
Ya Allah sungguh engkau
baik sekali meranggkai ceritaku sehebat ini, dengan hati yang lapang aku
menunggu dan berusaha bertahan dengan segala macam alur untuk menggapai mimpi
ini sampai bisa engkau membuatku melihat indahnya langit jingga di atas awanmu.
R i n t i k ~
Terimakasih banyak untuk sahabat pena, kedua orangtuaku untuk do’anya yang sungguh hebat, teman-teman delegasi dan kamu.
Bringing the goodness Bringing ourdreams.
|
|


Menginspirasi
BalasHapus