Jumat, 19 September 2025

TAPAK MANEMBAH

Tapak Manembah

 

Ada luka yang tubuh ini sembunyikan dari pandangan orang lain. 

Bukan karena aku tak mau menceritakan, tetapi karena kata-kata seringkali tampak lunak di tepi bibir, sementara di dalam dada semuanya masih tajam dan berbekas. Aku memilih diam bukan karena menyerah, melainkan karena diam adalah caraku menata serpihan-serpihan yang masih berjatuhan.

Aku tahu aku pernah salah, gegabah mencari ketenangan di tempat yang seharusnya tidak. Aku bertanggung jawab atas itu. Tapi aku juga tahu, cara seseorang membalas luka tidak pernah bisa dibenarkan ketika berubah menjadi penghinaan, fitnah, atau mempermalukan. Itu bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal batas harga diri yang harus tetap kujaga.

Di luar, aku masih berjalan ke tempat yang biasa aku sukai: lari pagi diruang hijau, banyak pepohonan, ada embun, udara sejuk, mendergarkan podcast yang menenangkan, kamu tau akan hal itu. Semua itu seperti pagar tipis yang kuletakkan di antara aku dan kekosongan. Namun ketika pagar itu hilang, ketika langkahku sampai ke rumah dan rutinitas menelan ruang, hatiku kembali berdarah. Kenangan datang seperti gerimis yang tak berhenti, setiap tetesnya mengingatkan aku pada hal-hal yang pernah kukira abadi.

Orang bilang waktu menyembuhkan. Kadang aku ingin percaya, tapi ada hari ketika waktu hanya jadi saksi yang tak berbuat apa-apa. Aku belajar bahwa penyembuhan bukan sekadar soal jarum jam yang berputar, melainkan tentang memberi izin pada diri untuk merasakan. Menangis bukan kelemahan, itu tanda bahwa hatiku masih hidup, masih punya kapasitas untuk melepaskan.

Diamku adalah medan perang. Di sana aku menahan amukan yang ingin kutumpahkan, memastikan agar kemarahan tak berubah menjadi kebencian yang memakan hari-hariku. Setiap napas berat kucatat sebagai bukti bahwa aku masih bertahan. Bukti kecil, tapi nyata: pagi yang kuterima, kopi yang kuseduh, halaman buku yang kubacakan pelan.

Ada juga rasa rindu, rindu yang lembut sekaligus brutal. Rindu bukan hanya pada sosok yang pergi, melainkan pada kebiasaan, pada rasa aman yang pernah ada. Mengakui kerinduan itu tidak selalu berarti ingin kembali, kadang aku hanya ingin memegang kenangan itu, lalu menaruhnya di tempat yang lebih aman, bukan di tengah luka yang terus terbuka.

Aku menulis ini bukan untuk mencari jawaban dari orang lain, melainkan untuk memberi suara pada yang tak mudah diucapkan. Menulis adalah caraku merapikan puing hati, mengeluarkan yang tajam supaya ruang di dalam dada bisa sedikit lapang. Surat-surat yang tak pernah kuirim, doa-doa yang terucap diam-diam, semuanya kubiarkan lewat kata. Agar suatu hari nanti, ketika kubaca kembali, aku bisa melihat jejak perjalanan ini: dari hancur ke bertahan, dari gelap ke sedikit terang.

Mungkin penyembuhan bukan garis lurus. Mungkin ia tarian canggung antara melangkah maju dan sesekali mundur. Dan mungkin itu tidak masalah, yang penting hari ini aku masih bernapas. Hari ini aku masih memberi kesempatan pada diriku untuk belajar mencintai kembali, bukan orang lain dulu, melainkan diriku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAPAK MANEMBAH

Tapak Manembah   Ada luka yang tubuh ini sembunyikan dari pandangan orang lain.  Bukan karena aku tak mau menceritakan, tetapi karena kata...