Tapak Manembah
Ada luka yang tubuh ini sembunyikan dari pandangan orang lain.
Bukan karena aku tak mau menceritakan, tetapi karena kata-kata seringkali tampak lunak di tepi bibir, sementara di dalam dada semuanya masih tajam dan berbekas. Aku memilih diam bukan karena menyerah, melainkan karena diam adalah caraku menata serpihan-serpihan yang masih berjatuhan.
Aku tahu aku
pernah salah, gegabah mencari ketenangan di tempat yang seharusnya tidak. Aku
bertanggung jawab atas itu. Tapi aku juga tahu, cara seseorang membalas luka
tidak pernah bisa dibenarkan ketika berubah menjadi penghinaan, fitnah, atau
mempermalukan. Itu bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal batas harga
diri yang harus tetap kujaga.
Di luar, aku
masih berjalan ke tempat yang biasa aku sukai: lari pagi diruang hijau, banyak
pepohonan, ada embun, udara sejuk, mendergarkan podcast yang menenangkan, kamu
tau akan hal itu. Semua itu seperti pagar tipis yang kuletakkan di antara aku
dan kekosongan. Namun ketika pagar itu hilang, ketika langkahku sampai ke rumah
dan rutinitas menelan ruang, hatiku kembali berdarah. Kenangan datang seperti
gerimis yang tak berhenti, setiap tetesnya mengingatkan aku pada hal-hal yang
pernah kukira abadi.
Orang bilang
waktu menyembuhkan. Kadang aku ingin percaya, tapi ada hari ketika waktu hanya
jadi saksi yang tak berbuat apa-apa. Aku belajar bahwa penyembuhan bukan
sekadar soal jarum jam yang berputar, melainkan tentang memberi izin pada diri
untuk merasakan. Menangis bukan kelemahan, itu tanda bahwa hatiku masih hidup,
masih punya kapasitas untuk melepaskan.
Diamku adalah
medan perang. Di sana aku menahan amukan yang ingin kutumpahkan, memastikan
agar kemarahan tak berubah menjadi kebencian yang memakan hari-hariku. Setiap
napas berat kucatat sebagai bukti bahwa aku masih bertahan. Bukti kecil, tapi
nyata: pagi yang kuterima, kopi yang kuseduh, halaman buku yang kubacakan
pelan.
Ada juga rasa rindu, rindu yang
lembut sekaligus brutal. Rindu bukan hanya pada sosok yang pergi, melainkan pada
kebiasaan, pada rasa aman yang pernah ada. Mengakui kerinduan itu tidak selalu
berarti ingin kembali, kadang aku hanya ingin memegang kenangan itu, lalu
menaruhnya di tempat yang lebih aman, bukan di tengah luka yang terus terbuka.
Aku menulis
ini bukan untuk mencari jawaban dari orang lain, melainkan untuk memberi suara
pada yang tak mudah diucapkan. Menulis adalah caraku merapikan puing hati, mengeluarkan
yang tajam supaya ruang di dalam dada bisa sedikit lapang. Surat-surat yang tak
pernah kuirim, doa-doa yang terucap diam-diam, semuanya kubiarkan lewat kata.
Agar suatu hari nanti, ketika kubaca kembali, aku bisa melihat jejak perjalanan
ini: dari hancur ke bertahan, dari gelap ke sedikit terang.
Mungkin penyembuhan bukan garis
lurus. Mungkin ia tarian canggung antara melangkah maju dan
sesekali mundur. Dan mungkin itu tidak masalah, yang penting hari ini aku masih
bernapas. Hari ini aku masih memberi kesempatan pada diriku untuk belajar
mencintai kembali, bukan orang lain dulu, melainkan diriku sendiri.