Di
Bawah Langit Surau yang Runtuh: Seratus Tahun Bayangan dan
Kritik A.A. Navis
Oleh:
Nur Savira
Seratus
tahun telah berlalu sejak kelahiran A.A. Navis,
seorang sastrawan yang tak pernah berhenti menyuarakan kegelisahan terhadap
nilai-nilai tradisi yang stagnan serta pengabaian tanggung jawab sosial. A.A. Navis,
yang dikenal luas melalui cerpen legendarisnya Robohnya Surau Kami
(1956), tidak hanya meninggalkan warisan sastra yang menggugah, tetapi juga
sebuah refleksi mendalam tentang masyarakat yang terjebak di antara
bayang-bayang tradisi dan tuntutan zaman modern. Melalui karyanya, A.A. Navis
menyuarakan kritik sosial terhadap stagnasi budaya dan peran agama yang hanya
difokuskan pada ritual tanpa memperhatikan tanggung jawab sosial, yang
relevansinya tetap kuat hingga saat ini.
Ali
Akbar Navis, atau yang lebih dikenal dengan nama pena A.A.
Navis, lahir pada 17 November 1924 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Kota
kecil ini merupakan pusat budaya Minangkabau yang sarat dengan adat istiadat
dan nilai-nilai keagamaan. Sebagai bagian dari masyarakat Minang yang memiliki
sistem adat matrilineal dan nilai-nilai Islam yang kuat, A.A. Navis tumbuh
dalam lingkungan yang sangat terikat pada tradisi. Bukannya menerima begitu
saja, A.A. Navis justru tumbuh menjadi sosok yang kritis terhadap struktur
sosial yang tak lagi sejalan dengan perkembangan zaman.
Cerpen
Robohnya Surau Kami adalah salah satu karya A.A. Navis yang paling
berpengaruh dan tetap menjadi bagian penting dalam khazanah sastra Indonesia.
Dalam cerita ini, A.A. Navis mengisahkan seorang penjaga surau yang taat
beribadah, namun akhirnya ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Sang penjaga
surau hidup dalam keyakinan kuat akan pentingnya ibadah dan ritual, tetapi
gagal memahami bahwa dunia di sekitarnya terus berubah. Sementara penjaga surau
sibuk dengan ibadah, masyarakat di luar surau berjuang menghadapi modernisasi
dan tantangan hidup baru.
Kisah
ini tidak hanya menyoroti aspek religius, tetapi juga memperlihatkan bagaimana
stagnasi budaya menghambat kemajuan. A.A. Navis menyoroti bagaimana agama, yang
seharusnya menjadi panduan moral dan sosial, sering kali terperangkap dalam
ritualisme yang kosong tanpa memperhatikan aspek-aspek sosial seperti
kemiskinan, ketidakadilan, dan perjuangan hidup. Dalam Robohnya Surau Kami,
A.A. Navis menyampaikan pesan bahwa agama bukan hanya soal ritual dan ibadah,
tetapi juga soal keberpihakan terhadap mereka yang membutuhkan.
Selain
Robohnya Surau Kami dan Kemarau, dalam karya lain seperti Sengsara
Membawa Nikmat, A.A. Navis kembali memperlihatkan pengamatannya terhadap
ketidakadilan sosial yang dialami masyarakat. Melalui karakter-karakter yang
hidup di tengah realitas keras, A.A. Navis menyoroti bagaimana sistem sosial
yang kaku memperparah penderitaan mereka yang terpinggirkan.
Bagi
A.A Navis, adat dan agama adalah elemen penting dalam kehidupan masyarakat,
tetapi keduanya harus dimaknai secara dinamis. A.A Navis melihat bahwa banyak
masyarakat, terutama di kampung halamannya di Minangkabau, terjebak dalam
tradisi yang statis dan tak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Inilah
yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak masyarakat terpuruk di tengah
arus modernisasi.
Melalui
karya-karyanya, A.A. Navis menantang pembaca untuk mempertanyakan nilai-nilai
yang telah lama dipegang, apakah masih sesuai dengan tantangan zaman atau
justru menghambat kemajuan. Warisan A.A. Navis bukan hanya terletak pada kritik
sosialnya, tetapi juga pada pandangan mendalam tentang bagaimana masyarakat
harus beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan identitas. Sastra bagi A.A.
Navis bukan sekadar alat bercerita, tetapi media untuk membangkitkan kesadaran
sosial dan intelektual.
Di
bawah langit surau yang runtuh, pemikiran dan kritik A.A. Navis tetap berdiri
kokoh. Seratus tahun sejak kelahirannya, warisannya masih menggema di dunia
sastra dan pemikiran sosial Indonesia. A.A. Navis menunjukkan bahwa sastra bisa
menjadi alat yang kuat untuk menggugah kesadaran masyarakat, membuka mata
terhadap ketidakadilan, dan mendorong perubahan sosial.
Di
era modern yang penuh dengan pergeseran sosial dan budaya, pemikiran kritis A.A.
Navis tetap menjadi cerminan penting bagi masyarakat kita. Karyanya mengajarkan
kita untuk berani mempertanyakan, berpikir kritis dan tidak terjebak dalam
bayang-bayang tradisi yang tak lagi relevan, tetapi bergerak maju dengan
keadilan dan kesadaran yang lebih inklusif.