Kamis, 10 Oktober 2024

Essay `~


Di Bawah Langit Surau yang Runtuh: Seratus Tahun Bayangan dan Kritik A.A. Navis

Oleh: Nur  Savira

Seratus tahun telah berlalu sejak kelahiran A.A. Navis, seorang sastrawan yang tak pernah berhenti menyuarakan kegelisahan terhadap nilai-nilai tradisi yang stagnan serta pengabaian tanggung jawab sosial. A.A. Navis, yang dikenal luas melalui cerpen legendarisnya Robohnya Surau Kami (1956), tidak hanya meninggalkan warisan sastra yang menggugah, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang masyarakat yang terjebak di antara bayang-bayang tradisi dan tuntutan zaman modern. Melalui karyanya, A.A. Navis menyuarakan kritik sosial terhadap stagnasi budaya dan peran agama yang hanya difokuskan pada ritual tanpa memperhatikan tanggung jawab sosial, yang relevansinya tetap kuat hingga saat ini.

Ali Akbar Navis, atau yang lebih dikenal dengan nama pena A.A. Navis, lahir pada 17 November 1924 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Kota kecil ini merupakan pusat budaya Minangkabau yang sarat dengan adat istiadat dan nilai-nilai keagamaan. Sebagai bagian dari masyarakat Minang yang memiliki sistem adat matrilineal dan nilai-nilai Islam yang kuat, A.A. Navis tumbuh dalam lingkungan yang sangat terikat pada tradisi. Bukannya menerima begitu saja, A.A. Navis justru tumbuh menjadi sosok yang kritis terhadap struktur sosial yang tak lagi sejalan dengan perkembangan zaman.

Cerpen Robohnya Surau Kami adalah salah satu karya A.A. Navis yang paling berpengaruh dan tetap menjadi bagian penting dalam khazanah sastra Indonesia. Dalam cerita ini, A.A. Navis mengisahkan seorang penjaga surau yang taat beribadah, namun akhirnya ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri. Sang penjaga surau hidup dalam keyakinan kuat akan pentingnya ibadah dan ritual, tetapi gagal memahami bahwa dunia di sekitarnya terus berubah. Sementara penjaga surau sibuk dengan ibadah, masyarakat di luar surau berjuang menghadapi modernisasi dan tantangan hidup baru.

Kisah ini tidak hanya menyoroti aspek religius, tetapi juga memperlihatkan bagaimana stagnasi budaya menghambat kemajuan. A.A. Navis menyoroti bagaimana agama, yang seharusnya menjadi panduan moral dan sosial, sering kali terperangkap dalam ritualisme yang kosong tanpa memperhatikan aspek-aspek sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan perjuangan hidup. Dalam Robohnya Surau Kami, A.A. Navis menyampaikan pesan bahwa agama bukan hanya soal ritual dan ibadah, tetapi juga soal keberpihakan terhadap mereka yang membutuhkan.

Selain Robohnya Surau Kami dan Kemarau, dalam karya lain seperti Sengsara Membawa Nikmat, A.A. Navis kembali memperlihatkan pengamatannya terhadap ketidakadilan sosial yang dialami masyarakat. Melalui karakter-karakter yang hidup di tengah realitas keras, A.A. Navis menyoroti bagaimana sistem sosial yang kaku memperparah penderitaan mereka yang terpinggirkan.

Bagi A.A Navis, adat dan agama adalah elemen penting dalam kehidupan masyarakat, tetapi keduanya harus dimaknai secara dinamis. A.A Navis melihat bahwa banyak masyarakat, terutama di kampung halamannya di Minangkabau, terjebak dalam tradisi yang statis dan tak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak masyarakat terpuruk di tengah arus modernisasi.

Melalui karya-karyanya, A.A. Navis menantang pembaca untuk mempertanyakan nilai-nilai yang telah lama dipegang, apakah masih sesuai dengan tantangan zaman atau justru menghambat kemajuan. Warisan A.A. Navis bukan hanya terletak pada kritik sosialnya, tetapi juga pada pandangan mendalam tentang bagaimana masyarakat harus beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan identitas. Sastra bagi A.A. Navis bukan sekadar alat bercerita, tetapi media untuk membangkitkan kesadaran sosial dan intelektual.

Di bawah langit surau yang runtuh, pemikiran dan kritik A.A. Navis tetap berdiri kokoh. Seratus tahun sejak kelahirannya, warisannya masih menggema di dunia sastra dan pemikiran sosial Indonesia. A.A. Navis menunjukkan bahwa sastra bisa menjadi alat yang kuat untuk menggugah kesadaran masyarakat, membuka mata terhadap ketidakadilan, dan mendorong perubahan sosial.

Di era modern yang penuh dengan pergeseran sosial dan budaya, pemikiran kritis A.A. Navis tetap menjadi cerminan penting bagi masyarakat kita. Karyanya mengajarkan kita untuk berani mempertanyakan, berpikir kritis dan tidak terjebak dalam bayang-bayang tradisi yang tak lagi relevan, tetapi bergerak maju dengan keadilan dan kesadaran yang lebih inklusif.

 

 

 

 

 

 

TAPAK MANEMBAH

Tapak Manembah   Ada luka yang tubuh ini sembunyikan dari pandangan orang lain.  Bukan karena aku tak mau menceritakan, tetapi karena kata...