Sabtu, 09 September 2023

WARNA DALAM LENTERA

 

WARNA DALAM LENTERA

         Lentera, lanterne, lucerna, atau ilo peta yang memiliki arti lampu atau cahaya. Lentera adalah perangkat pencahayaan  yang berfungsi untuk penerangan atau sumber cahaya dengan bertutup kaca, lampu kuno yang begitu bermanfaat kala itu. Namun lentera dalam cerita ini berbeda,  ia memiliki cahaya yang memancarkan berbagai warna di segala sisi, yaitu ada warna jingga, biru, merah, hitam dan coklat.

Warna Jingga memiliki arti melambangkan kebahagiaan. Jingga adalah kombinasi dari merah dan kuning yang umumnya dianggap sebagai warna energik. Warna ini dapat menimbulkan perasaan bahagaia, hangat, dan antusias.

          Warna Biru memiliki arti identikkan dengan perasaan kesedihan. Warna biru juga tidak bisa lepas dari emosi negatif karena terkadang warna biru mampu mendatangkan perasaan sedih, kesepian, atau kesendirian. Banyak yang mengasosiasikan warna biru sebagai warna kesedihan dan duka

           Warna Merah merupakan warna utama yang menggambarkan emosi yang kuat seperti kemarahan, warna merah justru melambangkan emosi yang kuat yang menggambarkan kemarahan atau gairah terhadap suatu hal. Walau demikian setiap orang memiliki kesan tersendiri terhadap warna merah tersebut.

           Warna Hitam menggambarkan ketakutan, budaya barat warna ini digunakan untuk melambangkan kematian dan kesedihan, dan bahkan warna ini sering dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat mistis.

           Warna Coklat umumnya menggambarkan kekuatan dan keberanian, warna coklat dianggap dapat membangkitkan kekuatan dan ketahanan. 

Sungguh indah

Mataku begitu takjup melihatmu

Engkau melihat kearahku seakan melambaikan tangan

Tak sadar sebuah lengkungan terbentuk

Lengkungan senyuman di bibirku

Sungguh ketenangan yang ku rasakan

Ingin sekali menghampirimu untuk mengajak berkelana

Memikirkan kehidupan masa depan ku

Memberikan solusi

Atau sekedar menghibur ku

Mengapa aku begitu kurang sabar dalam mengapai pelangi di depan sana

Mengapa aku begitu lemah saat badai menghampiri

Apa benih-benih yang ku tanam masih kurang?

Apa pupuk nya yang kurang ya?

Atau caraku menanam yang salah?

Apakah kamu tau?

Jangan hanya tersenyum dengan memberikan sinar indahmu saja

Aku butuh jawaban

Jangan senyum terus

Terakhir ku menatap

Jawabanmu tetap sama

        Percakapan singkat dengan diriku sendiri kala itu, saat bertemu dengan diri ini. Sungguh itu nyata, sungguh indah, 5 warna di atas adalah perasaan ku, tentu saja aku berperang dengan ke 5 warna itu, terkadang aku menangis karena takut akan gagal lagi, lalu ketakutan akan omongan orang di sekitar, kemudian marah akan diri sendiri yang tidak ingin keluar dari zona nyaman, hingga terkejut akan pencapaian ini dan kebahagiaan yang terpancar dari orang yang menyayangiku, inilah diriku yang kutemukan.

       Aku tidak pernah menyangka, ternyata berproses akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Berproses untuk menjadi versi terbaik dari diri. Bukan karena gelar juara yang aku dapat, tetapi aku bertemu dengan diriku didalamnya. Aku bertemu diriku yang takut untuk keluar dari zona nyaman. Aku bertemu diriku yang merasa tidak layak lagi untuk berkompetisi dan takut akan komentar negatif dari orang sekitar. Aku bertemu diriku yang selalu merasa kurang dan tidak pantas. Aku bertemu diriku yang takut akan kegagalan.

       Tetapi tidak, aku tidak akan kalah dengan rasa takut, rasa takut pernah membunuh semua mimpi-mimpiku dan penyesalan besar masih berlangsung hingga saat ini. Kata “percaya” membuatku bangkit hingga aku bertemu diriku yang baru. Aku bertemu diriku yang mampu melawan rasa takut dan keluar dari zona nyaman. Aku bertemu diriku yang ternyata mampu menahan kata-kata buruk untuk diriku sendiri dan merasa layak untuk menerima semua hal indah yang ada di bumi ini.

       Aku bertemu diriku yang menerima semua kekurangan yang aku miliki dan menjadikannya “sempurna” dengan semua kekuranganya. Aku bertemu diriku yang tidak takut gagal dan percaya bahwa ini merupakan bagian dari proses. Terserah apa kata mereka, ini hidupku. Entah apa yang terjadi jika hari itu aku menerima semua rasa takutku dan membatalkan diri untuk mengikuti kompetisi ini lagi, teman baru ku tak dapat, lingkungan baru untuk bertumbuh sia-sia ku lepas, kesempatan besar untuk menjadi versi terbaik diri lenyap begitu saja, karena hanya “rasa takut”.

       “Kamu dapat pergi sejauh apapun pikiranmu memungkinkanmu. Apa yang kamu yakini, itu yang akan menghampirimu” – Mary Kay Ash. Duta Bahasa ku gambarkan sebagai sebuah lentera, lampu penerangan yang akan menemaniku untuk terus melakukan yang terbaik dan menjadi yang terbaik, yang tentunya pasti akan ada banyak warna yang akan membuat lentera ku ini semakin indah nantinya. Teruntuk Nur  Savira, terima kasih karena sudah mau berjuang lagi hingga saat ini, hingga hari ini, hingga detik ini. Terima kasih karena terus bertahan dan menghadapi semuanya dengan penuh keyakinan. Terima kasih karena selalu berusaha untuk lebih baik lagi. Terima kasih karena masih terus berdoa dan melangitkan harapan-harapan indah.

        Terima kasih kepada orang rumah, kamu, sahabat dan orang-orang di belakang layar yang begitu baik  dengan senang hati mendukung ku hingga saat ini. Terima kasih Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat telah mempercayakan saya  untuk menjadi Duta Bahasa Provinsi NTB tahun 2023, dan juga terima kasih serta mohon bimbingan dan arahan untuk kedepanya sae ro ari ba mada ma wara aka IKADUBAS NTB.

                                                                            ~~                                            

Pesan untukmu yang sudah membaca ceritaku

Aku, kamu dan kita semua bisa melestarikan bahasa ibu kita, kita harus mulai membiasakan penggunaan Bahasa Indonesia. Dalam artian membiasakan itu kita tahu kapan kita bisa menggunakan Bahasa Indonesia sesuai kaidah dan tempatnya. Misal, di acara formal, kita menggunakan bahasa yang baku dan formal, jika dengan teman boleh saja menggunakan bahasa yang kurang baku tanpa mengurangi nilai Bahasa Indonesia, mencampur bahasa adalah salah satu contoh kecil yang bisa mengurangi nilai juga.

1.      Utamakan Bahasa Indonesia

Selalu menjadikan bahasa ibu kita sebagai bahasa utama yang kita gunakan sesuai dengan kaidah dan tempatnya.

2.      Lestarikan Bahasa Daerah

Tidak melupakan semua bahasa daerah yang ada di Indonesia, karena menggunakan bahasa daerah tidak hanya dapat melestarikannya, tetapi juga membentuk identitas diri kita dalam semangat “Bhinneka Tunggal Ika.”

3.      Kuasai bahasa asing

Memiliki niatan dan keinginan untuk menyebarkan apa yang ada di Indonesia dengan cara mengetahui bahasa yang biasa digunakan oleh masyarakat di luar Indonesia.

 

Salam Literasi

I didn't come this far to only come this far

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TAPAK MANEMBAH

Tapak Manembah   Ada luka yang tubuh ini sembunyikan dari pandangan orang lain.  Bukan karena aku tak mau menceritakan, tetapi karena kata...