WARNA DALAM LENTERA
Lentera, lanterne, lucerna, atau ilo peta yang memiliki arti lampu atau cahaya. Lentera adalah perangkat pencahayaan yang berfungsi untuk penerangan atau sumber
cahaya dengan bertutup kaca, lampu kuno yang begitu bermanfaat kala itu. Namun lentera
dalam cerita ini berbeda, ia memiliki cahaya
yang memancarkan berbagai warna di segala sisi, yaitu ada warna jingga, biru,
merah, hitam dan coklat.
Warna
Jingga memiliki arti melambangkan kebahagiaan. Jingga adalah kombinasi dari
merah dan kuning yang umumnya dianggap sebagai warna energik. Warna ini dapat
menimbulkan perasaan bahagaia, hangat, dan antusias.
Warna Biru memiliki arti identikkan
dengan perasaan kesedihan. Warna biru juga tidak bisa lepas dari emosi negatif
karena terkadang warna biru mampu mendatangkan perasaan sedih, kesepian, atau
kesendirian. Banyak yang mengasosiasikan warna biru sebagai warna
kesedihan dan duka
Warna Merah merupakan warna utama yang
menggambarkan emosi yang kuat seperti kemarahan, warna merah justru
melambangkan emosi yang kuat yang menggambarkan kemarahan atau gairah terhadap
suatu hal. Walau demikian setiap orang memiliki kesan tersendiri terhadap
warna merah tersebut.
Warna Hitam menggambarkan ketakutan,
budaya barat warna ini digunakan untuk melambangkan kematian dan kesedihan, dan
bahkan warna ini sering dihubungkan dengan hal-hal
yang bersifat mistis.
Warna Coklat umumnya menggambarkan
kekuatan dan keberanian, warna coklat dianggap dapat membangkitkan kekuatan dan
ketahanan.
Sungguh
indah
Mataku
begitu takjup melihatmu
Engkau
melihat kearahku seakan melambaikan tangan
Tak
sadar sebuah lengkungan terbentuk
Lengkungan
senyuman di bibirku
Sungguh
ketenangan yang ku rasakan
Ingin
sekali menghampirimu untuk mengajak berkelana
Memikirkan
kehidupan masa depan ku
Memberikan
solusi
Atau
sekedar menghibur ku
Mengapa
aku begitu kurang sabar dalam mengapai pelangi di depan sana
Mengapa
aku begitu lemah saat badai menghampiri
Apa
benih-benih yang ku tanam masih kurang?
Apa
pupuk nya yang kurang ya?
Atau
caraku menanam yang salah?
Apakah
kamu tau?
Jangan
hanya tersenyum dengan memberikan sinar indahmu saja
Aku
butuh jawaban
Jangan
senyum terus
Terakhir
ku menatap
Jawabanmu tetap sama
Percakapan singkat dengan diriku
sendiri kala itu, saat bertemu dengan diri ini. Sungguh itu nyata, sungguh
indah, 5 warna di atas adalah perasaan ku, tentu saja aku berperang dengan ke 5
warna itu, terkadang aku menangis karena takut akan gagal lagi, lalu ketakutan akan
omongan orang di sekitar, kemudian marah akan diri sendiri yang tidak ingin
keluar dari zona nyaman, hingga terkejut akan pencapaian ini dan kebahagiaan
yang terpancar dari orang yang menyayangiku, inilah diriku yang kutemukan.
Aku tidak pernah menyangka, ternyata berproses
akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Berproses untuk menjadi versi
terbaik dari diri. Bukan karena gelar juara yang aku dapat, tetapi aku bertemu
dengan diriku didalamnya. Aku bertemu diriku yang takut untuk keluar dari zona
nyaman. Aku bertemu diriku yang merasa tidak layak lagi untuk berkompetisi dan
takut akan komentar negatif dari orang sekitar. Aku bertemu diriku yang selalu
merasa kurang dan tidak pantas. Aku bertemu diriku yang takut akan kegagalan.
Tetapi tidak, aku tidak akan kalah
dengan rasa takut, rasa takut pernah membunuh semua mimpi-mimpiku dan
penyesalan besar masih berlangsung hingga saat ini. Kata “percaya” membuatku
bangkit hingga aku bertemu diriku yang baru. Aku bertemu diriku yang mampu
melawan rasa takut dan keluar dari zona nyaman. Aku bertemu diriku yang
ternyata mampu menahan kata-kata buruk untuk diriku sendiri dan merasa layak
untuk menerima semua hal indah yang ada di bumi ini.
Aku bertemu diriku yang menerima semua
kekurangan yang aku miliki dan menjadikannya “sempurna” dengan semua
kekuranganya. Aku bertemu diriku yang tidak takut gagal dan percaya bahwa ini
merupakan bagian dari proses. Terserah apa kata mereka, ini hidupku. Entah apa
yang terjadi jika hari itu aku menerima semua rasa takutku dan membatalkan diri
untuk mengikuti kompetisi ini lagi, teman baru ku tak dapat, lingkungan baru
untuk bertumbuh sia-sia ku lepas, kesempatan besar untuk menjadi versi terbaik
diri lenyap begitu saja, karena hanya “rasa takut”.
“Kamu dapat pergi sejauh apapun
pikiranmu memungkinkanmu. Apa yang kamu yakini, itu yang akan menghampirimu” –
Mary Kay Ash. Duta Bahasa ku gambarkan sebagai sebuah lentera, lampu penerangan
yang akan menemaniku untuk terus melakukan yang terbaik dan menjadi yang
terbaik, yang tentunya pasti akan ada banyak warna yang akan membuat lentera ku
ini semakin indah nantinya. Teruntuk Nur
Savira, terima kasih karena sudah mau berjuang lagi hingga saat ini,
hingga hari ini, hingga detik ini. Terima kasih karena terus bertahan dan
menghadapi semuanya dengan penuh keyakinan. Terima kasih karena selalu berusaha
untuk lebih baik lagi. Terima kasih karena masih terus berdoa dan melangitkan
harapan-harapan indah.
Terima kasih kepada orang rumah, kamu, sahabat dan orang-orang di belakang layar yang begitu baik dengan senang hati mendukung ku hingga saat ini. Terima kasih Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat telah mempercayakan saya untuk menjadi Duta Bahasa Provinsi NTB tahun 2023, dan juga terima kasih serta mohon bimbingan dan arahan untuk kedepanya sae ro ari ba mada ma wara aka IKADUBAS NTB.
~~
Pesan untukmu yang sudah
membaca ceritaku
Aku, kamu dan kita semua
bisa melestarikan bahasa ibu kita, kita harus mulai membiasakan penggunaan
Bahasa Indonesia. Dalam artian membiasakan itu kita tahu kapan kita bisa
menggunakan Bahasa Indonesia sesuai kaidah dan tempatnya. Misal, di acara
formal, kita menggunakan bahasa yang baku dan formal, jika dengan teman boleh saja
menggunakan bahasa yang kurang baku tanpa mengurangi nilai Bahasa Indonesia, mencampur
bahasa adalah salah satu contoh kecil yang bisa mengurangi nilai juga.
1.
Utamakan
Bahasa Indonesia
Selalu
menjadikan bahasa ibu kita sebagai bahasa utama yang kita gunakan sesuai dengan
kaidah dan tempatnya.
2.
Lestarikan
Bahasa Daerah
Tidak
melupakan semua bahasa daerah yang ada di Indonesia, karena menggunakan bahasa
daerah tidak hanya dapat melestarikannya, tetapi juga membentuk identitas diri
kita dalam semangat “Bhinneka Tunggal Ika.”
3.
Kuasai
bahasa asing
Memiliki
niatan dan keinginan untuk menyebarkan apa yang ada di Indonesia dengan cara
mengetahui bahasa yang biasa digunakan oleh masyarakat di luar Indonesia.
Salam Literasi
I didn't come this far to only come
this far